Strategi Baru BYD di Indonesia: Berhenti Impor Mobil dari China dan Geser Fokus ke Pabrik Lokal

Rabu, 25 Februari 2026 | 15:46:50 WIB
Strategi Baru BYD di Indonesia: Berhenti Impor Mobil dari China dan Geser Fokus ke Pabrik Lokal

JAKARTA - Perubahan strategi besar tengah dilakukan oleh BYD, salah satu produsen kendaraan listrik terkemuka asal China, dengan menghentikan seluruh impor mobil utuh dari negaranya mulai Januari 2026.

Langkah tersebut menandai babak baru hadirnya kendaraan listrik ‘Made in Indonesia’, sekaligus respons terhadap regulasi investasi yang mengikat produsen penerima insentif kendaraan listrik.

Dominasi Impor yang Berakhir

Sepanjang 2025, BYD menjadi nama yang tak terelakkan dalam statistik impor mobil Indonesia. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang tahun lalu BYD berhasil mendatangkan total 64.013 unit mobil utuh dari China, menjadikannya pabrikan dengan volume impor terbesar ke Tanah Air.

Pangsa pasar impor BYD bahkan mencapai 36,2 persen, artinya lebih dari sepertiga dari semua mobil yang diimpor ke Indonesia berasal dari pabrikan yang bermarkas di Shenzhen itu.

Namun semua itu berubah total pada awal 2026. Data Gaikindo per Januari menunjukkan angka nol untuk impor mobil BYD secara utuh dari China. Artinya, sejak awal tahun ini tidak ada lagi unit utuh yang diimpor BYD ke Indonesia, meski sepanjang tahun sebelumnya perusahaan sempat memimpin statistik tersebut.

Pabrik Subang Siap Produksi Mobil Listrik Indonesia

Alasan di balik penghentian impor ini bukanlah faktor penurunan permintaan atau masalah logistik, melainkan terkait strategi besar BYD untuk beralih ke produksi lokal. Saat ini, pabrikan asal China itu tengah menyelesaikan pembangunan pabrik di Kawasan Industri Subang Metropolitan, Jawa Barat.

Menurut Luther Panjaitan, Head of PR and Government BYD Indonesia, fasilitas produksi tersebut kini sudah sangat siap untuk beroperasi. Ia menjelaskan bahwa pabrik sudah menerima tiga sertifikasi penting, yakni sertifikat standar operasional, WMI untuk tanda pengenal nomor identifikasi kendaraan (NIK), serta sertifikasi IKD. Menurut Luther, ketiga sertifikasi ini menandakan fasilitas tersebut telah memenuhi semua persyaratan untuk memproduksi kendaraan di dalam negeri.

Dengan kesiapan ini, BYD tidak sekadar memenuhi persyaratan administratif, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik lokal. Adapun fasilitas pabrik di Subang dirancang untuk memproduksi kendaraan listrik yang akan dipasarkan di Indonesia dan sekitarnya, menggantikan unit-unit yang sebelumnya diimpor secara utuh dari pabrik di China.

Komitmen Investasi dan Regulasi Pemerintah

Keputusan BYD untuk menghentikan impor mobil juga erat kaitannya dengan kewajiban investasi yang diterapkan otoritas Indonesia. Sebagai salah satu produsen yang mendapatkan insentif untuk kendaraan listrik utuh impor (EV CBU), BYD harus memenuhi sejumlah syarat.

Berdasarkan Peraturan Menteri Investasi No. 6 Tahun 2023 jo No. 1 Tahun 2024, pabrikan penerima insentif wajib menyertakan surat komitmen yang salah satunya adalah janji untuk memproduksi kendaraan listrik di dalam negeri.

Aturan tersebut mengharuskan pabrikan mobil listrik mulai memproduksi unit di Indonesia paling lambat 1 Januari 2026. Selain itu, dalam periode antara Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, produsen wajib memproduksi dalam jumlah dan spesifikasi teknis yang minimal setara dengan volume dan jenis yang sebelumnya diimpor.

Komitmen lain yang juga harus dipenuhi adalah terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Jika tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, pabrikan bisa dikenakan sanksi administratif atau finansial.

Dengan demikian, penghentian impor BYD menjadi cerminan implementasi aturan tersebut: perusahaan kini harus mengalihkan fokus ke produksi lokal untuk memastikan kelanjutan insentif dan kesesuaian dengan kebijakan pemerintah Indonesia.

Penjualan Tetap Stabil Meski Tanpa Impor

Meski tidak lagi mengimpor mobil secara utuh, aktivitas penjualan BYD di Indonesia tidak mengalami gangguan berarti. Distribusi unit ke dealer (wholesales) dan penjualan ke konsumen (retail) masih berlangsung dengan standar yang sehat.

Pada Januari 2026, catatan wholesales BYD mencapai 4.879 unit, sementara penjualan retail berada di angka 2.516 unit. Angka-angka ini cukup untuk membawa BYD masuk ke dalam 10 besar merek mobil terlaris di Indonesia pada periode tersebut.

Saat ini BYD menawarkan enam model di pasar Indonesia, yaitu Seal, Atto 3, Dolphin, M6, Sealion 7, dan Atto 1. Dari semua model itu, kontribusi terbesar disumbang oleh Atto 1, yang juga diposisikan sebagai unit termurah di lini produk BYD.

Tantangan dan Peluang di Pasar EV Indonesia

Langkah strategis BYD ini hadir di tengah persaingan yang semakin ketat dalam sektor kendaraan listrik di Indonesia. Seiring pemerintah mendorong penggunaan EV lewat kebijakan insentif dan regulasi produksi lokal, pemain lain di segmen ini juga harus menyiapkan strategi serupa.

Pabrikan yang sebelumnya mengandalkan impor CBU kini menghadapi tekanan untuk memindahkan produksi ke dalam negeri agar tetap mendapatkan manfaat penuh dari kebijakan insentif.

Beralih ke produksi lokal juga berarti BYD mengambil peran lebih besar dalam transfer teknologi dan penciptaan lapangan kerja lokal, sebuah hal yang menjadi fokus pemerintah dalam menarik investasi di sektor otomotif dan energi bersih. Pabrik di Subang akan menjadi ujung tombak bagi ekspansi produksi lokal BYD dan bisa membantu memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi EV di kawasan Asia Tenggara.

Secara keseluruhan, keputusan BYD untuk menghentikan impor mobil utuh dari China dan mempercepat produksi lokal di Indonesia menunjukkan bahwa pabrikan ini tidak hanya beradaptasi terhadap regulasi pemerintah, tetapi juga tengah memposisikan diri sebagai pemain utama dalam transformasi pasar otomotif menuju era kendaraan listrik di Indonesia.

Terkini