KEMENAG

Kemenag Tekankan Peran Media Digital untuk Kuatkan Literasi Al-Quran di Era Modern

Kemenag Tekankan Peran Media Digital untuk Kuatkan Literasi Al-Quran di Era Modern
Kemenag Tekankan Peran Media Digital untuk Kuatkan Literasi Al-Quran di Era Modern

JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) kembali menegaskan urgensi penguatan literasi Al-Quran melalui pemanfaatan media digital sebagai bagian penting dari strategi dakwah yang mencerahkan dan relevan dengan perkembangan zaman. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah forum penting yang digelar pada 19 Februari 2026, saat pengukuhan dewan hakim Pekan Tilawatil Qur’an (PTQ) ke-55 1447 H di Gedung Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta.

PTQ dan Literasi Al-Quran di Tengah Arus Digital

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis M. Hanafi, membuka sambutannya dengan menegaskan komitmen Kemenag untuk terus bekerja sama dengan berbagai pihak dalam memperkuat literasi Al-Quran di tengah masyarakat luas. Menurutnya, kegiatan pembinaan seperti PTQ tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga medium strategis untuk menguatkan akar nilai-nilai Qurani yang menopang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam sambutannya, Muchlis menyatakan bahwa Kemenag aktif membina qari-qariah, hafizh-hafizhah, lembaga pendidikan Al-Quran, dan para penyuluh agama Islam yang jumlahnya mencapai sekitar 29 ribu orang di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperluas dampak pembelajaran Al-Quran di masyarakat melalui pendekatan kontekstual dan digital.

Transformasi Dakwah Lewat Media Digital

Muchlis menekankan bahwa pemanfaatan media digital merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi dakwah saat ini. Ia menyebut bahwa digitalisasi memungkinkan penyebaran pesan-pesan Al-Quran dengan lebih luas dan cepat kepada berbagai kalangan, khususnya generasi muda yang akrab dengan teknologi. Menurut Muchlis, media digital diharapkan dapat menjadi saluran yang mencerahkan dan memperkuat pemahaman masyarakat akan ajaran Al-Quran.

Lebih jauh, ia memaparkan bahwa kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan media massa dan penyedia konten digital, penting untuk menghadirkan Al-Quran sebagai “suara bangsa”. Hal ini menjadi sangat krusial dalam mendorong kehidupan bangsa yang lebih kuat dan berakar pada nilai-nilai Qurani guna menyongsong Indonesia Emas 2045, visi pembangunan nasional Indonesia yang menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai modal utama.

Makna Strategis Pekan Tilawatil Qur’an

Pekan Tilawatil Qur’an, yang telah digelar secara konsisten sejak 1968, bukan sekadar kompetisi baca Al-Quran. Menurut Muchlis, PTQ justru merupakan sarana pembinaan karakter sekaligus wadah dakwah kultural yang mengakar kuat dalam tradisi Qurani umat Islam Indonesia. Gelaran ini juga mencerminkan bagaimana pesan-pesan Al-Quran selama puluhan tahun disampaikan melalui berbagai medium, bahkan sejak era radio menjadi media utama masyarakat.

Ia mengenang pengalaman masa kecil ketika siaran lantunan ayat-ayat suci Al-Quran melalui Radio Republik Indonesia mengisi udara, terutama selama bulan Ramadan. Menurutnya, qari dan qariah pada masa itu tidak sekadar melafalkan ayat, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan rahmat, keadilan dan persatuan yang terkandung dalam kitab suci tersebut.

Format Gelaran PTQ ke-55

Penyelenggaraan PTQ ke-55 tahun ini dilakukan secara terpusat dan model hybrid, menggabungkan audisi online dan grand final offline di Jakarta. Format ini dirancang untuk menjamin akurasi dan transparansi penilaian melalui tahapan yang terintegrasi dengan sistem digital, sekaligus memperluas partisipasi peserta dari berbagai daerah.

Empat kategori perlombaan dibuka dalam acara ini, yaitu tilawah, tahfidz Al-Qur’an, tausiah, dan tartil sensorik netra. Pendaftaran peserta telah dilakukan secara daring pada 9–16 Februari 2026, sementara proses penilaian berlangsung secara terpusat pada 18–24 Februari 2026. Pelaksanaan tahapan digital ini menunjukkan bagaimana teknologi digunakan untuk mendukung proses kompetisi Al-Quran yang adil dan partisipatif di era modern.

Kategori tilawah diikuti oleh peserta umum dari seluruh satuan kerja dan stasiun produksi RRI di Indonesia, sedangkan kategori lain seperti tausiah, tahfidz, dan tartil sensorik netra diikuti oleh perwakilan dari 17 koordinator wilayah RRI se-Indonesia. Total peserta yang telah terdaftar sebanyak 1.588 orang dengan batasan usia tertentu mengikuti setiap kategori.

Peran Media dan Tantangan Ke Depan

Pernyataan Kemenag ini juga menggarisbawahi peran penting media dalam menyiarkan nilai-nilai Al-Quran ke khalayak luas sebagai upaya memperkuat kehidupan berbangsa. Dengan semakin berkembangnya teknologi dan media digital, tantangan dalam menyampaikan pesan keagamaan tidak lagi sebatas pada penyampaian konten, tetapi juga bagaimana konten tersebut mampu menjangkau dan membentuk pemahaman masyarakat secara luas.

Penguatan literasi Al-Quran melalui jalur digital dianggap sebagai salah satu solusi strategis dalam menghadapi tantangan pendidikan keagamaan yang semakin kompleks. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk media penyiaran publik dan platform digital, diharapkan nilai-nilai Al-Quran dapat terus hidup dan relevan di tengah dinamika masyarakat modern.

Dengan demikian, PTQ ke-55 tidak hanya merayakan tradisi panjang pengajaran Al-Quran, tetapi juga menjadi simbol adaptasi dan inovasi dalam memanfaatkan teknologi untuk tujuan pembinaan spiritual dan sosial masyarakat Indonesia di era digital.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index